Berharap Jurus Pamungkas Perang Melawan Covid-19

32
508

Oleh : Galuh Malpiana

Wartawan H.U Kabar Banten
Sekretaris IWO Kabupaten Lebak

AKHIR bulan Maret 2020 menjadi awal penanda dinyatakannya perang terhadap penyebaran coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Indonesia. Hal itu ditandai dengan pernyataan resmi Presiden Republik Indonesia Jokowi Dodo (Jokowi) yang mengumumkan status kedaruratan kesehatan masyarakat atas dampak pandemi Covid-19 yang terjadi secara global.


Hampir tiga bulan sudah, sejak diumumkannya darurat Covid-19 oleh pemerintah, masyarakat di seluruh pelosok negeri ini dicekam oleh musuh tak terlihat, namun mematikan yang bernama Covid-19 itu. Setiap hari masyarakat juga kenyang oleh sajian menu data dan angka statistik korban yang terkonfirmasi positif Covid-19. Baik itu yang disiarkan melalui media online, televisi maupun media cetak atau koran.

Berdasarkan siaran pers yang tayangan melalui saluran YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, dr Achmad Yurianto menyatakan, korban positif sudah lebih dari 10.000 orang. Kasus positif Covid-19 hingga 30 April 2020 mencapai 10.118 kasus. Untungnya pasien yang berhasil sembuh terus mengalami peningkatan signifikan. Pasien sembuh bertambah 131 orang sehingga total 1.522 orang. Adapun korban meninggal dunia bertambah delapan orang. Total 792 orang meninggal dunia akibat virus corona Covid-19 di Indonesia.


Jika melihat angka-angka tersebut, tentu membuat psikologis pikiran kita kian kacau dan bahkan paranoid. Itu tadi, karena kita ini memang sedang berperang melawan musuh yang datang tak terlihat, namun bisa menikam dan mematikan.


Covid-19 tak ubahnya sebuh teror yang sedang mengintai kita di berbagai penjuru. Namun, kita tidak boleh menyerah, kita harus melawan. Karena diam tanpa melawan, sama saja bunuh diri.


Yang namanya melawan musuh tentu perlu strategi, agar tidak mati konyol di medan perang. Pemerintah sudah mengeluarkan jurus physical distancing dan bahkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) atau karantina wilayah bagi daerah zona merah.


Physical distancing sampai PSBB karantina wilayah memang dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Namun perlu diingat, bahwa pemerintah juga perlu memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Dimana, pemenuhan kebutuhan dasar orang, bahkan makanan hewan ternak menjadi tanggung jawab pemerintah sebagaimana diatur dalam Pasal 55 UU No. 8 Tahun 2018. Aspek itu penting, telebih dampak produktivitas kerja masal yang kini terbukti sudah banyak perusahaan merumahkan karayawannya.


Pemerintah pusat mengalokasikan dana sekitar Rp 405 triliun untuk mengatasi dampak Covid-19. Sebagiannya, Rp 110 triliun untuk pengaman sosial bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang benar-benar terdampak. Bansos pengamanan sosial itu bagian dari implementasi dari kebijakan protokol kesehatan, salah satunya stay at home dan work from home serta larangan untuk mudik.


Dampak sosial yang ditimbulkan tak kalah berbahayanya juga dengan penyebaran virus itu. Dalam kondisi seperti sekarang ini, kita sebagai masyarakat seyogyanya harus ikut mendukung ikhtiar pemerintah dan berharap jurus pamungkas perang melawan Covid-19 bisa terwujud. Meski demikian evaluasi akan efektifitas pelaksanaannya harus terus dikawal agar nantinya tak hanya sekedar kebijakan yang tidak bermakna.*

32 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here