Tebing Anak Krakatau Bisa Longsor Jika Getaran Capai Kekuatan M 3,4

0
153
Jumpa pers BMKG (Foto: Guruh/detikcom)
Jumpa pers BMKG (Foto: Guruh/detikcom)

Jakarta, Bantenday.co.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau yang hingga hari ini terus mengalami getaran alias tremor. Jika kekuatan getaran tersebut mencapai magnitudo 3,4 maka dikhawatirkan tebing Anak Krakatau akan longsor yang bisa berdampak pada tsunami.

“Tremor itu getaran seismik dari aktivitas vulkanik. Jadi sensor-sensor kami atau Badan Geologi saat ini sedang memantau getaran-getaran tadi. Dan ternyata getaran tadi itu terus berjalan, tidak istirahat. Jadi kalau ada yang mengtatakan ‘batuk’, itu karena getar terus,” kata Dwikorita saat jumpa pers di kantor BMKG, Jl Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (25/12/2018) malam.

Dwikorita mengatakan, getaran yang terjadi itu bisa mengakibatkan tebing Gunung Anak Krakatau longsor. Namun menurut analisa pihaknya, getaran yang menyebabkan longsor jiak mencapai kekuatan 3,4 magnitudo.

“Kami coba analisis balik getaran-getarannya, seberapa yang dikhawatirkan dapat menyebabkan longsor. Jadi sudah diidentifikasi yang bisa menyebabkan getaran setara magnitudo 3,4. Jadi kalau tercapai magnitudo 3,4 kita keluarkan peringatan dini untuk segera ditindak lanjuti,” katanya.

Dwikorita menambahkan, pihaknya lebih baik mengeluarkan peringatan dini dengan data yang kuat. Dia juga menambahkan, lonsgor yang terjadi pada Anak Krakatau dan mengakibatkan tsunami tersebut dikarenakan adanya getaran berkekuatan magnitudo 3,4.

“Jadi lebih baik memberi peringatan dini dengan dasar yang kuat. Kejadian tsunami lalu itu akibat getaran setara 3,4 magnitudo . Sehingga setiap ketangkap kekuatan magnitudo 3,4 itu dijadikan dasar memberikan peringatan dini tsunami. Karena asumsinya sudah terjadi longsor dan longsor itu diperkirakan akan menimbulkan tsunami,” katanya.

“Jadi yang namanya peringatan dini itu sebelum terjadi. Namun resiko setelah diberi perigatan dini belum tentu itu terjadi. Namun menyangkut jiwa orang, lebih baik diberi peringatan dini. Jadi mohon agar bisa dipahami, karena kita ini tidak dapat memastikan segala sesuatunya, kita hanya melakukan pendekatan secara teknologi,” imbuhnya.
(jor/ibh/Detik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here